Mancing saat ini semakin hari semakin berkembang. Perubahan aturan, cara mancing, penetapan tiket, sistem mancing, terus mengalami perubahan. Semakin luasnya mancing, maka semakin banyak pemancing tumbuh. Pemancingan kolam saat ini tidak selalu didominasi oleh pemancingan ikan mas, kini peminat pemancingan lele, semakin menunjukkan kelasnya.

Beberapa waktu lalu pada bulan Maret 2018, FORTUNA berkunjung ke Pemancingan Galatama Lele BAS FISHING yang berlokasi di Jl. Raden Saleh, Sukmajaya, Depok 2 tengah. Pemancingan ini dekat dengan Studio Alam TVRI Depok. Sehingga siapapun tidak kesulitan dalam mencari alamat.

Saat itu FORTUNA bertemu pengelolanya, yakni Bambang Firzi Kurniawan yang biasa dipanggil Awan. Beliau merupakan anak dari H. Hayatim (pemilik BAS Fishing). Pemancingan ini sudah beberapa bulan dipegang olehnya. Kepada FORTUNA ia menuturkan bahwa Pemancingan Bas Fishing berulang tahun pada tanggal 25 Maret. Hingga tahun 2018 ini pemancingan berumur 2 tahun.

Memilih segmen mancing lele, hal ini dimulai dari sebuah rencana awal untuk mendirikan pemancingan keluarga, namun dalam masih proses pembuatannya, H. Hayatim selaku pemilik melakukan survei dan memantau kolam-kolam disekitar Jakarta Selatan. Kiblat dari situ, akhirnya dipilih mancing lele. Kalau ikan mas faktor yang paling susah adalah air. Dimana air yang baik harus selalu tersedia, sedangkan lokasi ini air bersih dan baik sangat susah. Kalau ikan mas biasanya pemancing akan mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mancing, untuk umpan saja ikan mas sangat mahal. Selain itu melihat banyak kolam disekitar Bas Fishing yang merupakan kolam ikan mas, akhirnya diputuskan untuk beda dengan memilih ikan lele.

Dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan dan perbaikan. Awalnya memakai sistem korang, namun karena frekuensi mancing yang lama, maka ikan lele akan kelelahan dan pasti menderita jika harus selalu di korang, dan ini bisa menyebabkan kematian. Dan hingga kini tidak lagi diberlakukan sistem korang.

Harga tiket yang dikenakan sangat terjangkau. Untuk tiket hari biasa, dikenakan sebsar Rp. 50.000/2jam. Pemancingan buka setiap hari, kecuali hari senin libur khusus untuk perawatan, dan lomba biasa dimulai dari Pukul 14.00 s/d pukul 16.00 WIB, langsung berlanjut Pukul 16.00 s/d 18.00 WIB, ada jeda waktu untuk istirahat dan lomba dilanjutkan lagi pukul 20.00 s/d 22.00 serta pukul 22.00 s/d pukul 24.00. Sedangkan untuk paket ada pada hari Selasa dan Jumat malam dimulai dari pukul 20.00 s/d 23.00 (3 jam), dan 23.00 s/d 01.00, untuk hari minggu dimulai dari pukul 14.30 WIB.

Pertumbuhan pemancing disekitar kolam, bisa dikatakan sangat sedikit. Menurut Awan, justru pemancing dari luar yang sangat banyak datang. Seperti dari Cibinong, Cilangkap dan lain-lain. Pemancingan ini difasilitasi dengan Musholla, toilet, mess karyawan, kantor, toko pancing, wifi gratis dan kantin. Pemancingan ini ternyata tidak khusus untuk galatma lele saja, tapi juga ada kolam ikan mas borongan.

Pemancingan ini mempunyai luas  3000 m2 . Kedalaman kolam 1,5 m. Ikan saat ini paling kecil ukuran 2 kg dan paling besar berukuran 8 kg. Ikan rame dalam jumlah banyak dengan ukuran 2 sampai 4 kg, sedangkan ikan babon ukuran 5 sampai 8 kg.

Ikan tidak dikembangbiakan sendiri melainkan beli langsung dari produsen dan mencari yang ukuran besar. Untuk menjaga kesehatan ikan, selalu diadakan rotasi ikan induk. ”kami mempunyai 6 kolam penampungan, 1 untuk kolam ikan rame, dan sisanya untuk kolam ikan babon. Setiap saat selalu melakukan rotasi ikan induk, agar ikan sehat dan terjaga”, penjelasannya.

Dia juga menjelaskan walaupun sering dilakukan rotasi dan penggunaan mata kail tanpa rurit, tingkat kematian ikan perhari bisa 2-3 ekor. Hal ini sering diakibatkan penggunaan umpan yang tidak sesuai aturan. Oleh sebab itu panitia dan kedi sering memeriksa jenis umpan yang dipakai, jika melanggar maka umpan tersebut  diambil dan peserta didiskualifikasi.

Aturan yang diberlakukan dalam Bas Fishing adalah sebagai berikut : satu lapak berlaku satu joran, ikan wajib makan (kain berada dimulut ikan), Mata kail yang digunakan hanya 1 dan itu tanpa rurit ukuran nomor 6-7, pelampung dan glosoran (bebas), boleh nyiram dan ngebom namun tidak boleh berlebihan. Umpan yang dilarang adalah kroto, marus/darah, galang gatik, cacing sutra, cacing rambut, brownis, roti, telor ikan sapu-sapu, kremes chicken, gorengan, umpan busuk, umpan yang menggunakan sabun atau sunlight, amoy, kapas, belatung atau lintah. Untuk pengesahan ikan induk harus disahkan panitia yang disaksikan minimal 1 peserta.

Mengenai besar tiket, Awan menuturkan bahwa jarang mengenakan tiket besar, kalau pun pernah itu terjadi pada saat awal-awal pembukaan dengan hadiah motor. Lomba tersebut pernah diadakan selama 6 bulan begitu penuturannya.

Pada tanggal 25 Maret 2018 dilakukan lomba dalam rangka HUT Bas Fishing yang ke-2. Lomba tersebut mengenakan tiket Rp. 250.000. Dan jumlah peserta dibatasi hanya 60 lapak. Dan saat itu sudah ada 5 cadangan. Lomba tersebut memperebutkan 7 kategori juara, juara induk 1 hingga 4 dan juara total prestasi 4 hingga 7. Untuk memeriahkan lomba terdapat 60 ikan balap (peserta yang berhasil dapat ikan dalam kurun waktu tertentu akan mendapat hadiah), dimana setiap ekornya dihargai @ Rp. 10.000. Selain itu lomba juga mendapat dukungan sponsor dari essen pancing dan toko pancing 736. Lomba tersebut berdurasi 4 jam yang dimulai dari pukul 14.00 WIB dan berakhir pukul 18.00 WIB.

Pemancingan BAS Fishing juga ikut serta dalam suatu kompetisi berkelanjutan dengan sistem mencari tiket final. Lomba tersebut digagas oleh sebuah produk umpan pancing. Lomba diadakan sebanyak 10 kali putaran di 10 kolam yang berbeda. Lomba sudah dimulai sejak Februari dan final akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Mei. Tiket yang dikenakan sangat terjangkau, yakni Rp. 100.000.

Untuk menjaga kondisi ikan, pemancingan Bas Fishing melakukan perawatan dengan meliburkan lomba pada hari senin. Disitu air akan dikuras sejak minggu malam dan senin pagi diisi kembali, ikan diberi obat dan vitamin.

Awan yang baru mengelola pada bulan Desember 2017 ini, menuturkan bahwa banyak perubahan yang dilakukan untuk kenyamanan dan kepuasan para pemancing. Karyawan juga ditambah hingga menjadi 10 orang untuk kolam. Parkir luas dan aman karena bekerjasama dengan warga setempat ”untuk parkir kami menyerahkan kepada RT dan RW setempat yang mengelola, biasanya pemasukan parkir masuk ke kas mereka.

Para Juara HUT ke-2 Bas Fishing

  1. Levin 3
  2. Balong Permai
  3. badruz
  4. Pajajar
  5. Total Prestasi I Copetong
  6. Total Prestasi II Centini
  7. Total Prestasi III Si abang

FORTUNA****

 

Ketika kita mengikuti atau menyaksikan sebuah lomba mancing, maka kita akan mendengar nama-nama pemancing (tim) yang kadang unik dan kadang sangat enak didengar dan ada juga yang mengerikan. Kita tidak tahu mengapa mereka memilih nama tersebut. Tentu mereka punya pesepsi atas nama yang mereka ciptakan dengan harapan membawa hoki dan diharapkan menang dalam lomba mancing sehingga mendapatkan hadiah dan bisa terus berlanjut mancing.

Jadi dalam hal ini nama sangat berperan dan menentang adanya istilah serta persepsi ”apalah artinya sebuah nama”.  Karena menurut mereka Nama adalah doa, dan harapan, sehingga kalau namanya baik menurut mereka maka akan membawa keberuntungan.

Demikian halnya dengan Bapak Darusalam salah seorang pemancing senior yang saat ini masih ikut melanglang buana ke berbagai daerah mengikuti lomba mancing eksekutif. Menurut pengakuannya, nama sangat berarti dan membawa keberuntungan. Dan untuk itu diapun memilih nama yang menurutnya akan membawa hoki.

”Dan memang menjadi kenyataan” katanya. Dia banyak memperoleh rezeki dari mancing. Sampai saat ini sudah tidak bisa dihitung banyaknya yang diterima selama 25 tahun. Menurutnya karena faktor nama itu, menjadi salah satu yang membuat dia berjalan terus mancingnya. ”Adalah karena faktor nama. “Karena nama itu membawa harapan dan rezeki”. Begitu penjelasannya

Nama Ini Ada Pasang Surutnya

Nama ini pun, rupanya tidak selamanya berjaya, ada masa jayanya ada juga masa turunnya. Dan ketika nama itu dirasa sudah kurang membawa keberuntungan atau mungkin sudah membosankan,  maka harus diganti dengan nama lain.

Saat ini nama yang sedang dia favoritkan adalah nama ”Neng Relika”. Nama ini, adalah nama baru yang terdengar di pemancingan, tapi walau terdengar baru, pemancingnya adalah pemancing lama alias senior yang sudah melanglang buana ke pemancingan-pemancingan yang ada di seluruh Indonesia.

Menurut pengakuannya, pertama nama yang digunakan adalah Darus Salam dan memang punya Hoki. Setelah itu Kemudian berubah menjadi Gilang. Setelah beberapa lama, ketika nama ini dirasa kurang membawa keberuntungan, dirubah lagi menjadi Neng Hoki. Dan yang terakhir, namanya Relika yang merupakan nama anaknya yang paling bontot.

Nama ini semakin terkenal setelah berturut-turut memenangi lomba dan mengisi pundi-pundinya 2 kali berturut-turut. Yang pertama juara 1 di Ratu Mas Ayu, dan kemudian di Pemancingan Telaga Kencana Malang menjadi juara 2. Dan bisa dibayangkan, dari 2 lomba tersebut, dia bisa mengantongi hadiah yang mencapai 400 jutaan rupiah.

Ketika ditanya, apakah dia memiliki tehnik atau resep khusus untuk menjadi juara ?,  menurutnya tidak memiliki rahasia khusus. ”Tapi kuncinya enjoy dan jangan ngotot” begitu katanya.  Itu standar yang dia tetapkan untuk mancing. Dan untuk mancing memang dia punya anggaran khusus, sehingga tidak mengganggu ekonomi keluarga.

Demikian juga dalam hal tugas utama, tidak boleh terganggu karena mancing. Jadi dia pergi mancing, ketika tugas utama selesai atau tidak mengganggu untuk tugas-tugas selanjutnya.

Karena dia tidak mau ngotot untuk mancing, kalau modal untuk mancing tidak ada, maka diapun siap berhenti mancing. Dan ketika udah punya modal, kembali mancing. Dari hadiah mancing tersebut, dia sisihkan untuk biaya mancing selanjutnya.

Dalam hal menggunakan umpanpun katanya dia tidak mau diatur oleh kedi. Dia yang mengatur kedi untuk membuat ramuan umpan. Jadi dia yang menentukan umpan berdasarkan insting yang dia miliki dari berbagai pengalaman dari berbagai lomba mancing.

Mengikuti mancing baginya bukan untuk mencari uang. Tapi untuk menyalurkan hobi. Jadi mancing adalah juga bagian dari olahraga, karena selama ini dia senang dengan olahraga. Dan ketika ditanya kepada dia apa manfaat mancing ?. Menurutnya adalah menyalurkan hobi dan juga menjalin  persaudaraan serta bersilaturahmi dengan teman-teman sesama pemancing.

Dasar utama dalam memancing di pemancingan adalah saling menghargai. Kalau tidak, mungkin akan ada orang yang saling berantam di pemancingan. Karena sering dilewati pemancing lain ketika mengajar ikan.

Penurutannya kepada FORTUNA, awalnya mengenal mancing itu dimulai dengan mancing pelampung.  Dan baginya mancing pelampung itu punya kebahagiaan tersendiri. “Ketika menunggu pelampung, terus diamati, diamati lagi dan ketika bergerak lalu disentak itulah nikmatnya mancing”, katanya.FORTUNA****

Gaung lomba berkesinambungan terlihat di berbagai pemancingan. Sistem lomba dengan cara mencari juara tiap kali lomba untuk mendapat tiket final ini, mendapat sambutan hangat dari pemancing galatama professional. Sistem ini membuat pemancing dan pemancingan semakin terikat. Pemancingan Telaga Joglo juga mengadakan hal yang serupa. Pada tanggal 12 November 2017 yang lalu, diadakan Lomba Final grand prix Telaga Joglo. Final ini terselenggara setelah diadakan sejak bulan Agustus. Lomba keseluruhan diadakan sebanyak 11 kali setiap hari sabtu. Total tiket keseluruhan untuk 11 kali lomba Rp. 6.000.000, diambil juara sebanyak 4 lapak. Selama 11 putaran lomba akan mendapat 44 lapak, sisa 6 lapak diundi dan diambil dari juara 5 dari 11 putaran lomba, durasi lomba setiap sabtu 4 jam, dari jam 14.00 WIB hingga 18.00 WIB , untuk lomba final 6 jam dimulai pukul 15.00 WIB hingga 21.00 WIB. Keseluruhan lapak yang disediakan sebanyak 50.

Final Telaga Joglo Cup I. berlangsung seru

Lomba grandprix memakai aturan sistem sah-sahan (kail yang benar-benar menancap pada mulut ikan, yang dapat diikutkan dalam kategori ikan terberat). Sebagai tambahan, aturan diperketat dengan dilarangnya pemancing melempar umpan antara 3 meter kebawah. Dan ini juga sudah dicoba dalam 3 bulan dalam semua lomba yang diadakan di Telaga Joglo. Lomba grand prix Telaga Joglo ini hanya memperbolehkan pemancing memakai satu joran. Umpan yang digunakan juga sama yakni pellet dan aci, mata kail maksimal 3 buah ukuran no. 6.

Sebagian besar peserta dari Karawang, Purwakarta, Bandung, Bekasi, dan Jakarta. Beredar kabar kalau tiket final ada yang dijual, dan ini dibenarkan panitia. ”Peserta memang ada yang mendapat 2 bahkan 3 tiket, karena itu ada yang menjual dengan harga Rp. 5 juta/tiketnya”, Ujar Dodi.

Salah satu peserta final Telaga Joglo Cup I

Kepada FORTUNA, Dodi menuturkan bahwa ada penambahan ikan rame sebanyak 700 ekor, ukuran 2-3 kg. Dan untuk mendukung lomba tersebut, kolam diliburkan satu hari sebelumnya. Dengan total tiket keseluruhan Rp 6 juta, peserta diharuskan dan diwajibkan ikut dalam setiap lombanya pada hari sabtu. Namun ada pilihan lain jika pemancing merasa waktunya kurang pas. Untuk hari Selasa dan kamis diberlakukan ”paket turnamen” dengan sistem seleksi yang sama dengan grand prix. Hanya saja tiket yang diberlakukan hanya sebesar Rp. 250.000 per lomba dan ini tidak memaksa peserta untuk selalu ikut dalam lomba paket turnamen setiap saat. Paket turnamen ini baru dimulai bulan Oktober tahun lalu. Setiap lombanya diambil 3 juara, sebanyak 16 kali lomba, sehingga terkumpul 48 lapak, dan sisa 2 lapak diundi khusus peserta yang mendapat juara 4. Paket turnamen ini ditentukan dari jumlah peserta yang ikut. Jika diatas 25 lapak diberlakukan paket turnamen, dibawah 25 lapak menjadi galatama biasa. Lomba dimulai dari jam 15.00 WIB hingga 18.00 WIB. Yang menarik untuk lomba paket turnamen ini, ikan jackpot diberlakukan. Sebagai informasi kini total jackpot mencapai 35 juta untuk ikan patin dan ikan merah 10 Kg up, dan ikan kumpay Rp. 1.500.000.

Panitia Lomba Telaga Joglo

Berbeda dengan lomba grandprix setiap sabtu, final turnamen telaga joglo cup I ini mengambil 10 kategori juara ikan induk terberat, tidak total poin dan total terberat. Kepada peserta yang berhasil mendapat tiket final, tidak dikenakan sedikitpun biaya tiket. Jika ingin ikut serta dalam tiket ekstra, peserta harus merogoh kocek untuk C hitam 4 kali x Rp. 100.000 , untuk C merah 4 kali x Rp. 100.000 (per sesinya 1,5 jam), SS hitam 2 kali x Rp. 350.000 (per 3 jam), dan SS merah 2 kali x Rp. 500.000 (per 3 jam total tiket ekstra Rp. 2.500.000. Tiket ekstra ini tidak wajib, bahkan berdasarkan penuturan panitia ada peserta yang polos alias tidak memakai tiket ekstra.

Antusias yang tinggi mengenai event ini, membuat para pemancing peserta final bahkan pemancing lainya, bertanya apakah sudah dibuka pendaftaran untuk Turnamen Telaga Joglo Cup II. Dodi selaku panitia menuturkan bahwa benar ada peserta yang berniat untuk ikut turnamen selanjutnya, namun pihak Pemancingan Telaga Joglo masih menahan diri untuk menentukan waktu (dalam artian menunggu waktu yang tepat, dan menyusun rencana yang matang untuk selanjutnya dan persiapan agar lebih baik).

Sebagian besar peserta Turnamen Telaga joglo Cup I adalah pemancing langganan. Untuk mendapat jumlah peserta yang ditargetkan, Pemancingan Telaga Joglo selalu menyiarkan kepada pemancingan setiap harinya, selain itu juga menyebar brosur dan mengirimkan pesan pendek ke pemancing langganan.

Jalannya Lomba

Jumlah ikan rame dan ikan induk yang sangat banyak, membuat peserta sangat puas menarik. Bahkan posisi juara selalu saling tumpang tindih. Menjelang 30 menit lomba akan berakhir, ikan induk naik bertubi-tubi. Karena semua ikan induk yang naik adalah ikan sah, panitia kelabakan hingga harus selalu memperbaharui kedudukan posisi juara. Dari awal lomba, cuaca cerah dan suhu tidak terlalu panas, sehingga ikan benar-benar makan. Keluar sebagai juara Kinanti I, ikan juara didapat pada pertengahan lomba. Dan uniknya umpan yang digunakan Kinanti I sangat baik, sehingga menggondol juara ikan induk posisi kedua. Salah satu pemancing Jakarta ikut bertengger di barisan ketiga yakni Qiu-Qiu. Secara keseluruhan lomba berlangsung dengan sangat baik, terutama dari segi jumlah ikan. Banyak sekali ikan induk yang naik namun tidak sah karena kail tidak menancap sempurna di mulut ikan. Peserta pun terlihat puas dengan jumlah ikan rame yang banyak, hal ini membuat pemancing sellau menarik ikan.

Para Juara

  1. Kinanti 1 lapak 40 berat ikan 10,9 Kg (merah) mendapat hadiah uang tunai Rp. 50 juta
  2. Kinanti 1 lapak 40 berat ikan 10,8 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 20 juta
  3. Qiu-Qiu lapak 30 berat ikan 10,75 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 10 juta
  4. Kinanti 2 lapak 32 berat ikan 10,55 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 6 juta
  5. Sileungli lapak 37 berat ikan 10,3 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 4 juta
  6. Rang-Rang I lapak 04 berat ikan 10,1 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 3 juta
  7. Murugul lapak 14 berat ikan 10 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 2 juta
  8. Nindita lapak 46 berat ikan 9,85 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 1,5 juta
  9. Rang-Rang I lapak 04 berat ikan 9,2 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 1,5 juta
  10. Khainun MR lapak 40 berat ikan 9,0 Kg mendapat hadiah uang tunai Rp. 1,5 juta

 

Kinanti I

Lapak 40 pada Final Turnamen Telaga Joglo Cup I mendominasi jalannya lomba. Lapak yang diduduki Kinanti I berhasil menggondol 2 posisi juara sekaligus yakni juara I dan II. Lapak tersebut diisi pemancing dengan nama asli Adang Cariyat. Bapak dari 2 anak ini memang penggila mancing. Sudah 15 tahun beliau mancing. Kegiatan mancing ini sudah menjadi hobi baginya. ”kalau pulang kerja, pasti langsung mancing”, ujarnya. Pria berumur 54 tahun ini mengenal mancing  karena ketularan dari temannya yang sehabis jam kantor langsung pergi mancing. Awalnya hanya melihat-lihat, ketika teman menyodorkan joran dan bertarung dengan ikan, dari situlah tingkat ketagihan meninggi. Mulai membeli peralatan mancing kecil-kecil, dan akhirnya menjadi kegiatan rutin.

Kinanti I

Pria asli sunda ini berdomisili di Bandung, ketika ditanya dimana ia sering mancing, maka ia menjelaskan lokasi-lokasi di sekitar Bandung seperti Cibeber, Ratu Mas Ayu, Purwakarta. Di luar kota Telaga joglo, Tirta gadog, Telaga Mina, dan PIK.

Menurutnya yang disuka dari mancing adalah karena ada seninya, hadiah nomor sekian, tarikan ikan yang lebih dominan. Meracik umpan yang sesuai dan melatih kejelian serta kesabaran. Kepada FORTUNA ia menuturkan dalam seminggu bias 3 kali memancing.

Dia mengikuti lomba Telaga Joglo Cup I dari awal hingga final. Menurutnya untuk panitia Telaga Joglo pelayanannya sudah bagus, dan nafsu makan ikan juga bagus. Dari sisi tempat sangat bagus dan bersih. Dan jumlah ikan juga sangat bagus, sehingga banyak tarikan. Kinanti mendapat dua tiket di final, dan itu dipakai semua. Tiket final ini ia peroleh pada lomba ketiga dan Kedelapan. Dan untuk event final ini, ia khusus meracik sendiri umpannya. FORTUNA****

            Pemancingan Telaga Kencana genap berusia 4 tahun melayani pemancing. Dalam menapaki perjalanan 4 tahun itu, tentu banyak suka dan duka yang dihadapi oleh pemiliknya. Karena untuk mendirikan dan menjalankan sebuah pemancingan galatama eksekutif bukanlah sesuatu hal yang mudah.

            Tidak hanya asal mempunyai modal, lalu mendirikan sebuah pemancingan dan bisa berjalan dengan sukses. Karena kalau sudah disebut sebuah pemancingan galatama eksekutif, maka pemancingan itu, harus pula memiliki lapak yang memadai, ikan yang cukup, mulai dari ikan rame dan babon yang memadai di level 7 kg up.

 

Suasana Lomba HUT Ke-4 Telaga Kencana Malang

            Dan yang tak ketinggalan adalah sarana pendukung dari pemancingan, baik sarana pendukung langsung ke kolam maupun sarana  dan prasarana yang bisa memberi pelayanan langsung kepada pemancing. Dalam hal ini pemancingan Telaga Kencana telah memilikinya dan terus berbenah setiap saat.

            Sebagaimana pernah dialami semua pemilik pemancingan, pasti merasakannya, kematian ikan, mengalami banjir atau longsong, yang bisa  membuat sesak dada pemiliknya. Tentu saja Telaga Kencana tidak terlepas dari hal tersebut, dan menjadi barometer kokohnya sebuah pemancingan dan  ketangguhan pemiliknya.

Pengundian Lapak

            Ketika Ulang Tahun tiba, ada renungan menghitung waktu. Detik demi detik, melewati menit, dan menit melampaui jam, hari, bulan, tahun dan hingga dapat terlalu menjadi 4 tahun. 

            Kalau diibaratkan manusia, usia itu masih bayi. Tapi untuk menjadi usia 4 tahun adalah landasan untuk menempuh perjalanan berikutnya. Karena melalui usia balita tersebut menjadi modal menakar waktu betapa berharganya perjalanan yang bisa dilalui dengan baik.

 

Trophy Juara HUT Ke-4 Telaga Kencana Malang

Daerah Malang Dengan Tantangannya

            Setiap daerah memiliki tantangan dan kelebihannya untuk sebuah pemancingan. Pemancingan yang berlokasi di Perumahan Maliawan, Malang Jawa Timur itu, adalah salah satu lokasi yang penuh tantangan bagi pendirian sebuah Pemancingan Galatama eksekutif. Karena Malang adalah daerah dingin tapi berudara kering. Sebagaimana pernah diuraikan pemiliknya Bapak Ibnu, karena dinginnya udara di Malang, maka cenderung munculnya jamur yang sangat tidak menguntungkan bagi kesehatan ikan.

Panitia Lomba Telaga Kencana Malang

            Menurut Ibnu, air kolam yang dikelolanya juga sangat tinggi zat besinya. Sehingga dibutuhkan perawatan khusus air, agar ikan bisa bertahan hidup. Karakter cuaca malang juga telah menjadikan daerah Malang tidak cocok untuk pembesaran ikan. Jadi ikan yang ada di sana hanya untuk ikan konsumsi. Jadi untuk kebutuhan ikan kolam khususnya ikan babon harus mendatangkannya  dari luar kota.  Dimana dalam pengirimannya membutuhkan biaya yang tinggi dan perawatan yang cukup berat.  Sehingga harga ikan untuk ikan babon  untuk kebutuhan kolam sangat tinggi harganya.

            Ketika pemancingan ini mampu menjalani usia 4 tahun adalah sebuah prestasi yang  luar biasa dari pemiliknya untuk mengelolanya. Selamat Ulang Tahun yang ke-4 Pemancingan Telaga Kencana

 

Juara II HUT Telaga Kencana Malang

Jalannya Lomba

            Dalam rangka peringatan Ulang Tahun Pemancingan tersebut, diadakan lomba mancing yang diikuti para pemancing dari Seluruh Indonesia. Lomba  berlangsung dari pukul 15.00 WITA dan berakhir pukul 21.00 WITA.

            Lomba berlangsung seru, karena dalam pertarungan hingga akhir lomba, para peserta harus berjuang untuk menaikkan ikan dengan bobot 13 kg lebih. Hal ini merupakan pertarungan yang sangat melelahkan, ditengah gempuran-gempuran ikan-ikan babon yang tampak kelaparan melahap umpan.

            Ketika lomba memasuki pertarungan di level 10 kg para peserta masing-masing menilai bahwa pertarungan belum dimulai. Tapi ketika naik tangga di level 11 kg, tampak para pemancing mulai semakin fokus. Dan hasilnya ikan di level 11 kg memenuhi penimbangan sambung menyambung.

Neng Relika Juara I HUT Ke-4 Telaga Kencana Malang

Dan ketika pertarungan memasuki level 12 kg, para pemancing mulai makin serius untuk menaikkan level diatas 12 dengan harapan akan menjadi pemenang. Namun ketika panitia mengumumkan bahwa level lomba menembus 13.00 kg beberapa pemancing ada yang sudah mulai kendur. Namun pertarungan level 13 Kg ditutup di level 13,10 kg dengan susunan pemenang sebagai berikut :

  1. Juara 1 dari Lapak 34, Neng Relika  dengan berar ikan 13,10 kg
  2. Juara 2 dari Lapak 32 Hantu laut dengan berat ikan 13,00 kg
  3. Juara 3 dari Lapak 10  Walisongo dengan berat ikan 12, 55 kg
  4. Juara 4 dari Lapak 11 Abah Pendi dengan berat ikan 12, 40 kg
  5. Juara 5 dari Lapak 03 Meteor dengan berat ikan 12,35 kg

FORTUNA****

 

 

invisible hit counter